Adsense

Jumat, 01 Maret 2013

MENCERMATI FAKTOR-FAKTOR KEGAGALAN USAHA MINYAK ATSIRI


Faktor kritis kegagalan usaha industri minyak nilam dan minyak akar wangi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat teknis dan non-teknis. Faktor non-teknis berhubungan dengan (1) kemampuan manajemen dan sikap kewirausahaan pengusaha yang bersangkutan dan (2) faktor dan kendala eksternal yang berada di luar kendali pengusaha. Kondisi pasar minyak nilam dan akar wangi yang bersifat oligopsonimerupakan faktor kritis kegagalan usaha, jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan sikap kewirausahaan yang tangguh. Sepanjang produk minyak nilam dan minyak akar wangi masih mengandalkan pasar ekspor, maka masih terdapat ancaman terhadap pembatas-pembatas perdagangan terselubung yang bersifat non-tariff (non-tariff barrier)yang diterapkan negara maju. Ancaman non-tariff barrier tersebut antara lain adalah issue lingkungan. Hal ini terutama berhubungan dengan praktek budidaya perladangan berpindah dengan cara membuka hutan, yang masih dipraktekan oleh sebagian petani tanaman nilam khususnya pada sebagian wilayah Sumatera.

Aspek teknis yang berhubungan dengan proses penyulingan minyak nilam dan minyak akar wangi mempunyai aspek kritis adalah sebagai berikut.
1) Konsistensi mutu dan kesinambungan pasokan bahan baku
Mutu bahan baku nilam dan akar wangi akan menentukan rendemen dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan. Pada industri penyulingan yang berlaku adalah kondisi “garbage in garbage out” dalam pengertian bahwa parameter-parameter proses penyulingan tidak dapat dimanipulasi untuk menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen dan mutu yang baik dari bahan baku yang buruk. Terdapat banyak faktor yang menentukan mutu bahan baku, baik yang berhubungan dengan faktor alam maupun perilaku dan praktek petani dalam budidaya tanaman. Membina hubungan kemitraan yang baik serta penetapan harga beli yang proporsional dan adil sesuai dengan mutu dan perkembangan harga jual produk merupakan salah satu upaya untuk mengurangi resiko ini. Harga beli bahan baku daun nilam dan akar wangi yang rendah merupakan faktor disinsentif yang mengakibatkan petani beralih usaha ke tanaman lain yang lebih menguntungkan, atau tidak melakukan perawatan tanaman yang baik. Kebutuhan yang mendesak untuk biaya hidup menyebabkan petani memanen daun nilam atau akar wangi lebih dini, sehingga mempunyai mutu yang rendah. Pada beberapa kasus, harga beli bahan baku daun nilam dan akarwangi yang tinggi juga dapat mendorong petani memanen daun nilam dan akar wangi lebih awal dari yang seharusnya.

2) Pengendalian Proses
Mutu bahan yang baik (termasuk perlakuan pendahuluan bahan sebelum disuling) dan parameter proses produksi yang dikendalikan dengan baik akan menjamin dihasilkannya minyak nilam dan akar wangi dengan rendemen dan mutu yang dikehendaki. Faktor kritis dalam parameter proses penyulingan dengan uap adalah (a) tekanan uap dan jumlah uap yang dialirkan kedalam ketel penyuling, (b) lama proses penyulingan, (c) kecepatan aliran uap yang dikeluarkan dari ketel, (d) lama proses, dan (e) kepadatan bahan dalam ketel. Kedisiplinan pekerja dan operator untuk mematuhi standar prosedur kerja merupakan kunci keberhasilan proses penyulingan. Disain boiler, alat penyuling dan kondensor yang tepat merupakan prasyarat pengendalian parameter proses penyulingan sehingga menghasilkan rendemen dan mutu yang baik.
3) Pengendalian Mutu Produk.
Berdasarkan pengalaman pelaku usaha industri ini, produk minyak atsiri umumnya dan minyak nilam serta minyak akar wangi khususnya dapat dipandang sebagai “produk kepercayaan”, dalam pengertian kepatuhan terhadap standar mutu yang disepakati dan konsistensi mutu merupakan perihal yang utama. Seperti telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka banyak faktor yang mempengaruhi mutu produk yang harus dikendalikan sehingga konsistensi mutu dapat dijamin. Resiko yang dihadapi oleh industri penyuling adalah bahwa di antara faktor-faktor tersebut faktor yang berada diluar kendali industri lebih banyak dibandingkan dengan faktor yang dapat dikendalikan oleh industri penyuling.
Faktor kritis kegagalan usaha industri minyak nilam dan minyak akar wangi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat teknis dan non-teknis. Faktor non-teknis berhubungan dengan (1) kemampuan manajemen dan sikap kewirausahaan pengusaha yang bersangkutan dan (2) faktor dan kendala eksternal yang berada di luar kendali pengusaha. Kondisi pasar minyak nilam dan akar wangi yang bersifat oligopsonimerupakan faktor kritis kegagalan usaha, jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan sikap kewirausahaan yang tangguh. Sepanjang produk minyak nilam dan minyak akar wangi masih mengandalkan pasar ekspor, maka masih terdapat ancaman terhadap pembatas-pembatas perdagangan terselubung yang bersifat non-tariff (non-tariff barrier)yang diterapkan negara maju. Ancaman non-tariff barrier tersebut antara lain adalah issue lingkungan. Hal ini terutama berhubungan dengan praktek budidaya perladangan berpindah dengan cara membuka hutan, yang masih dipraktekan oleh sebagian petani tanaman nilam khususnya pada sebagian wilayah Sumatera.

Aspek teknis yang berhubungan dengan proses penyulingan minyak nilam dan minyak akar wangi mempunyai aspek kritis adalah sebagai berikut.
1) Konsistensi mutu dan kesinambungan pasokan bahan baku
Mutu bahan baku nilam dan akar wangi akan menentukan rendemen dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan. Pada industri penyulingan yang berlaku adalah kondisi “garbage in garbage out” dalam pengertian bahwa parameter-parameter proses penyulingan tidak dapat dimanipulasi untuk menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen dan mutu yang baik dari bahan baku yang buruk. Terdapat banyak faktor yang menentukan mutu bahan baku, baik yang berhubungan dengan faktor alam maupun perilaku dan praktek petani dalam budidaya tanaman. Membina hubungan kemitraan yang baik serta penetapan harga beli yang proporsional dan adil sesuai dengan mutu dan perkembangan harga jual produk merupakan salah satu upaya untuk mengurangi resiko ini. Harga beli bahan baku daun nilam dan akar wangi yang rendah merupakan faktor disinsentif yang mengakibatkan petani beralih usaha ke tanaman lain yang lebih menguntungkan, atau tidak melakukan perawatan tanaman yang baik. Kebutuhan yang mendesak untuk biaya hidup menyebabkan petani memanen daun nilam atau akar wangi lebih dini, sehingga mempunyai mutu yang rendah. Pada beberapa kasus, harga beli bahan baku daun nilam dan akarwangi yang tinggi juga dapat mendorong petani memanen daun nilam dan akar wangi lebih awal dari yang seharusnya.
2) Pengendalian Proses
Mutu bahan yang baik (termasuk perlakuan pendahuluan bahan sebelum disuling) dan parameter proses produksi yang dikendalikan dengan baik akan menjamin dihasilkannya minyak nilam dan akar wangi dengan rendemen dan mutu yang dikehendaki. Faktor kritis dalam parameter proses penyulingan dengan uap adalah (a) tekanan uap dan jumlah uap yang dialirkan kedalam ketel penyuling, (b) lama proses penyulingan, (c) kecepatan aliran uap yang dikeluarkan dari ketel, (d) lama proses, dan (e) kepadatan bahan dalam ketel. Kedisiplinan pekerja dan operator untuk mematuhi standar prosedur kerja merupakan kunci keberhasilan proses penyulingan. Disain boiler, alat penyuling dan kondensor yang tepat merupakan prasyarat pengendalian parameter proses penyulingan sehingga menghasilkan rendemen dan mutu yang baik.
3) Pengendalian Mutu Produk.
Berdasarkan pengalaman pelaku usaha industri ini, produk minyak atsiri umumnya dan minyak nilam serta minyak akar wangi khususnya dapat dipandang sebagai “produk kepercayaan”, dalam pengertian kepatuhan terhadap standar mutu yang disepakati dan konsistensi mutu merupakan perihal yang utama. Seperti telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka banyak faktor yang mempengaruhi mutu produk yang harus dikendalikan sehingga konsistensi mutu dapat dijamin. Resiko yang dihadapi oleh industri penyuling adalah bahwa di antara faktor-faktor tersebut faktor yang berada diluar kendali industri lebih banyak dibandingkan dengan faktor yang dapat dikendalikan oleh industri penyuling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar