Faktor
kritis kegagalan usaha industri minyak nilam dan minyak akar wangi dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat teknis dan non-teknis. Faktor
non-teknis berhubungan dengan (1) kemampuan manajemen dan sikap kewirausahaan
pengusaha yang bersangkutan dan (2) faktor dan kendala eksternal yang
berada di luar kendali pengusaha. Kondisi pasar minyak nilam dan akar wangi
yang bersifat oligopsonimerupakan faktor kritis kegagalan usaha,
jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan sikap kewirausahaan yang tangguh.
Sepanjang produk minyak nilam dan minyak akar wangi masih mengandalkan pasar
ekspor, maka masih terdapat ancaman terhadap pembatas-pembatas perdagangan
terselubung yang bersifat non-tariff (non-tariff barrier)yang
diterapkan negara maju. Ancaman non-tariff barrier tersebut
antara lain adalah issue lingkungan. Hal ini terutama berhubungan dengan
praktek budidaya perladangan berpindah dengan cara membuka hutan, yang masih
dipraktekan oleh sebagian petani tanaman nilam khususnya pada sebagian wilayah
Sumatera.
Aspek teknis yang berhubungan dengan
proses penyulingan minyak nilam dan minyak akar wangi mempunyai aspek kritis
adalah sebagai berikut.
1)
Konsistensi mutu dan kesinambungan pasokan bahan baku
Mutu
bahan baku nilam dan akar wangi akan menentukan rendemen dan mutu minyak atsiri
yang dihasilkan. Pada industri penyulingan yang berlaku adalah kondisi “garbage
in garbage out” dalam pengertian bahwa parameter-parameter proses penyulingan
tidak dapat dimanipulasi untuk menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen dan
mutu yang baik dari bahan baku yang buruk. Terdapat banyak faktor yang
menentukan mutu bahan baku, baik yang berhubungan dengan faktor alam maupun
perilaku dan praktek petani dalam budidaya tanaman. Membina hubungan kemitraan
yang baik serta penetapan harga beli yang proporsional dan adil sesuai dengan
mutu dan perkembangan harga jual produk merupakan salah satu upaya untuk
mengurangi resiko ini. Harga beli bahan baku daun nilam dan akar wangi yang
rendah merupakan faktor disinsentif yang mengakibatkan petani beralih usaha ke
tanaman lain yang lebih menguntungkan, atau tidak melakukan perawatan tanaman
yang baik. Kebutuhan yang mendesak untuk biaya hidup menyebabkan petani memanen
daun nilam atau akar wangi lebih dini, sehingga mempunyai mutu yang rendah.
Pada beberapa kasus, harga beli bahan baku daun nilam dan akarwangi yang tinggi
juga dapat mendorong petani memanen daun nilam dan akar wangi lebih awal dari
yang seharusnya.
2)
Pengendalian Proses
Mutu bahan yang baik (termasuk perlakuan
pendahuluan bahan sebelum disuling) dan parameter proses produksi yang
dikendalikan dengan baik akan menjamin dihasilkannya minyak nilam dan akar
wangi dengan rendemen dan mutu yang dikehendaki. Faktor kritis dalam parameter
proses penyulingan dengan uap adalah (a) tekanan uap dan jumlah uap yang
dialirkan kedalam ketel penyuling, (b) lama proses penyulingan, (c) kecepatan
aliran uap yang dikeluarkan dari ketel, (d) lama proses, dan (e) kepadatan
bahan dalam ketel. Kedisiplinan pekerja dan operator untuk mematuhi standar
prosedur kerja merupakan kunci keberhasilan proses penyulingan. Disain boiler,
alat penyuling dan kondensor yang tepat merupakan prasyarat pengendalian
parameter proses penyulingan sehingga menghasilkan rendemen dan mutu yang baik.
3)
Pengendalian Mutu Produk.
Berdasarkan pengalaman pelaku usaha
industri ini, produk minyak atsiri umumnya dan minyak nilam serta minyak akar
wangi khususnya dapat dipandang sebagai “produk kepercayaan”, dalam pengertian
kepatuhan terhadap standar mutu yang disepakati dan konsistensi mutu merupakan
perihal yang utama. Seperti telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka banyak
faktor yang mempengaruhi mutu produk yang harus dikendalikan sehingga konsistensi
mutu dapat dijamin. Resiko yang dihadapi oleh industri penyuling adalah bahwa
di antara faktor-faktor tersebut faktor yang berada diluar kendali industri
lebih banyak dibandingkan dengan faktor yang dapat dikendalikan oleh industri
penyuling.
Faktor
kritis kegagalan usaha industri minyak nilam dan minyak akar wangi dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat teknis dan non-teknis. Faktor
non-teknis berhubungan dengan (1) kemampuan manajemen dan sikap kewirausahaan
pengusaha yang bersangkutan dan (2) faktor dan kendala eksternal yang
berada di luar kendali pengusaha. Kondisi pasar minyak nilam dan akar wangi
yang bersifat oligopsonimerupakan faktor kritis kegagalan usaha,
jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan sikap kewirausahaan yang tangguh.
Sepanjang produk minyak nilam dan minyak akar wangi masih mengandalkan pasar
ekspor, maka masih terdapat ancaman terhadap pembatas-pembatas perdagangan
terselubung yang bersifat non-tariff (non-tariff barrier)yang
diterapkan negara maju. Ancaman non-tariff barrier tersebut
antara lain adalah issue lingkungan. Hal ini terutama berhubungan dengan
praktek budidaya perladangan berpindah dengan cara membuka hutan, yang masih
dipraktekan oleh sebagian petani tanaman nilam khususnya pada sebagian wilayah
Sumatera.
Aspek teknis yang berhubungan dengan
proses penyulingan minyak nilam dan minyak akar wangi mempunyai aspek kritis
adalah sebagai berikut.
1)
Konsistensi mutu dan kesinambungan pasokan bahan baku
Mutu
bahan baku nilam dan akar wangi akan menentukan rendemen dan mutu minyak atsiri
yang dihasilkan. Pada industri penyulingan yang berlaku adalah kondisi “garbage
in garbage out” dalam pengertian bahwa parameter-parameter proses
penyulingan tidak dapat dimanipulasi untuk menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen
dan mutu yang baik dari bahan baku yang buruk. Terdapat banyak faktor yang
menentukan mutu bahan baku, baik yang berhubungan dengan faktor alam maupun
perilaku dan praktek petani dalam budidaya tanaman. Membina hubungan kemitraan
yang baik serta penetapan harga beli yang proporsional dan adil sesuai dengan
mutu dan perkembangan harga jual produk merupakan salah satu upaya untuk
mengurangi resiko ini. Harga beli bahan baku daun nilam dan akar wangi yang
rendah merupakan faktor disinsentif yang mengakibatkan petani beralih usaha ke
tanaman lain yang lebih menguntungkan, atau tidak melakukan perawatan tanaman
yang baik. Kebutuhan yang mendesak untuk biaya hidup menyebabkan petani memanen
daun nilam atau akar wangi lebih dini, sehingga mempunyai mutu yang rendah.
Pada beberapa kasus, harga beli bahan baku daun nilam dan akarwangi yang tinggi
juga dapat mendorong petani memanen daun nilam dan akar wangi lebih awal dari
yang seharusnya.
2)
Pengendalian Proses
Mutu bahan yang baik (termasuk perlakuan
pendahuluan bahan sebelum disuling) dan parameter proses produksi yang
dikendalikan dengan baik akan menjamin dihasilkannya minyak nilam dan akar
wangi dengan rendemen dan mutu yang dikehendaki. Faktor kritis dalam parameter
proses penyulingan dengan uap adalah (a) tekanan uap dan jumlah uap yang
dialirkan kedalam ketel penyuling, (b) lama proses penyulingan, (c) kecepatan
aliran uap yang dikeluarkan dari ketel, (d) lama proses, dan (e) kepadatan
bahan dalam ketel. Kedisiplinan pekerja dan operator untuk mematuhi standar
prosedur kerja merupakan kunci keberhasilan proses penyulingan. Disain boiler,
alat penyuling dan kondensor yang tepat merupakan prasyarat pengendalian
parameter proses penyulingan sehingga menghasilkan rendemen dan mutu yang baik.
3)
Pengendalian Mutu Produk.
Berdasarkan pengalaman pelaku usaha
industri ini, produk minyak atsiri umumnya dan minyak nilam serta minyak akar
wangi khususnya dapat dipandang sebagai “produk kepercayaan”, dalam pengertian
kepatuhan terhadap standar mutu yang disepakati dan konsistensi mutu merupakan
perihal yang utama. Seperti telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka banyak
faktor yang mempengaruhi mutu produk yang harus dikendalikan sehingga
konsistensi mutu dapat dijamin. Resiko yang dihadapi oleh industri penyuling adalah
bahwa di antara faktor-faktor tersebut faktor yang berada diluar kendali
industri lebih banyak dibandingkan dengan faktor yang dapat dikendalikan oleh
industri penyuling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar