Adsense

Kamis, 07 Maret 2013

MENGINTIP PROSES PENGOLAHAN KAYU MANIS


Indonesia terkenal sebagai penghasil rempah-rempah dari alam yang masing-masing jenisnya memiliki manfaat terutama untuk bumbu berbagai jenis masakan ataupun manfaat bagi kesehatan manusia.Salah satu diantaranya adalah Kayu Manis atauCinnamomun atau Cassiavera. Jenis tanaman ini dimanfaatkan bagian kulitnya.Cassiavera mengandung minyak atsiri yang terdapat pada kulit bagian dalam (phloem). Selain itu cassiavera juga mengandung senyawa benzoat dan salisilat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Kayu manis banyak digunakan dalam rumah tangga ataupun berbagai macam industri seperti kosmetika, produk kesehatan ataupun sebagai bahan baku penghasil minyak atsiri.Kebutuhan ekspor Cassievera ini juga cukup tinggi. Pengolahan pascaapanen kayumanis yang cukup mudah dan kebutuhan pasar yang cukup tinggi menjadikan faktor pengolahan kayumanis ini sebagai peluang usaha yang patut diperhitungkan.

Di indonesia, Cassiavera ini pada umumnya dihasilkan dari C. Burmani Sumatera Barat yang merupakan penghasil utama cassiavera di Dunia. Dalam perdagangan internasional, cassiavera dikenal sebagai Padang kancci atau Cassiavera eks Padang. Pengolahan cassiavera kering secara tradisional tidaklah sulit,dengan menggunakan metode dan alat-alat sederhana. Untuk memperoleh cassiavera kering dilakukan pengupasan kulit, pemeraman,pengikisan, dan pengeringan.Berikut prose pengolahannnya.

BAHAN DAN PERALATAN 
Bahan baku yang digunakan tentu saja kayu manis atau Cassiavera, sedangkan peralatan yang digunakan berupa pisau yang kuat dan ujungnya tajam untuk pengupasan dan pengkikisan serta tikar, atau tampah tempat penjemuran

CARA PEMBUATAN

Pengupasan 
Pada umumnya kayu manis / Cinnamomom dipanen setelah umur 4 tahun. Pemanenan dilakukan dengan cara mengupas kulit batang, lalu kemudian menebangnya. Tahap selanjutnya mengupas kulit cabang dan ranting. Pengambilan kulit (pengupasan) dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya akan kita bahas sebagai berikut:

Pengelupasan kulit batang
o    Tahap pertama pengolahan kayu manis, kulit pada batang pohon yang masih hidup dibersihkan dari lumut dan kotoran.
o    Kulit pada posisi 5~10 cm di atas leher akar dikerat melingkar disekeliling batang sampai menyentuh bagian kayu dari batang. Keratan kedua dibuat 100 cm di atas keratan pertama.
o    Setelah kulit dikerat lagi secara vertikal dari keratan lingkaran atas keratan lingkaran bawah. Keratan vertikal ini dibuat beberapa buah dengan jarak 5~10 cm. Dengan demikian akan diperoleh keratan keratan kulit dengan panjang 100 cm dan lebar 5~10 cm.
o    Masing-masing keratan dikelipaskan dengan mencungkilnya melalui garis keratan vertikal, kemudian menariknya dari atas ke bawah secara vertikal. Dengan demikian akan diperoleh lembara-lembaran kulit dengan panjang 100 cm dan lebar 5~10 cm.
o    Pengelupasan tersebut dilakukan sampai semua kulit batang habis dikelupaskan.

Pengelupasan kulit cabang dan ranting 
Setelah pengelupasan kulit batang, tahap selanjutnya adalah tanaman ditebang dengan memotong batang 10 cm di atas leher akar. Kemudian ranting pada cabang dipotong. Selanjutnya daun-daun dan bagian-bagian yang tidak bisa dikuliti pada bagian ranting, serta cabang dipotong-potong. Potongan cabang dan ranting dikuliti dengan pisau. Cabang yang cukup besar perlu diusahakan pengulitannya seperti pengulitan batang agar diperoleh lembaran kulit yang bermutu tinggi. Proses pengelupasan ini hendaknya dilakukan dengan hati-hati dan cermat sehingga kualitas kayu manis yang dihasilkan juga tinggi.

Pemeraman 
Setelah kulit kayu manis selesai dikelupas, tahap selanjutnya kulit batang yang baru dikelupas diperam selama semalaman dengan cara menumpuk kulit pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung.

Pengikisan 
Untuk mendapatkan mutu kayu manis yang baik, kulit yang berukuran lebar, yaitu kulit dari batang dan kulit dari dahan yang cukup besar sebaiknya dikikis bagian luarnya, sehingga kulit menjadi bersih.Pengikisan dilakukan dengan pisau yang tajam. Pengikisan dapat juga dengan alat mekanis yang bekerja seperi mesin serut papan (ketam).

Penjemuran
o    Proses berikutnya, kulit kayu manis dijemur. Pada umumnya tahap pengeringan ini masihdilakukan secara tradisional yaitu menggunakan sinar matahari selama kurang lebih 3~4 hari hingga kadar air turun sampai 16%, atau berat bahan-bahan susut sampai 50%. Selama penjemuran bahan harus sering dibolak-balik. Kendalanya penjemuran sering menghasilkan bahan yang jelek mutunya karena berkapang. Hal inidisebabkan hujan sering turun, atau sinar matahari tertutup awan. Untuk mengatasinya, disarankan proses pengeringan ini dilakukan menggunakan alat pengering.
o    Kulit dari bahan atau dahan yang cukup besar yang berupa lembaran, selama pengeringan akan mengerut membentuk gulungan panjang serupa tongkat. Sedangkan kulitnya akan membentuk serpihan atau lempengan yang tidak beraturan.

Penyimpanan 
Cassiavera kering disimpan di tempat kering yang tidak panas. Tempat penyimpanan perlu dihindarkan dari tikus dan serangga.

Tahap selanjutnya kayu manis siap dikemas dan dipasarkan. Untuk memperoleh kualitas kayumanis yang baik pengeringan kulit harus benar-benar sempurna sehingga kering dan tahan disimpan dalam jangka waktu yanglama. Kayu manis siap dipasarkan langsung ke konsumen ataupun disetorkan ke industri-industri.

Jumat, 01 Maret 2013

MENCERMATI FAKTOR-FAKTOR KEGAGALAN USAHA MINYAK ATSIRI


Faktor kritis kegagalan usaha industri minyak nilam dan minyak akar wangi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat teknis dan non-teknis. Faktor non-teknis berhubungan dengan (1) kemampuan manajemen dan sikap kewirausahaan pengusaha yang bersangkutan dan (2) faktor dan kendala eksternal yang berada di luar kendali pengusaha. Kondisi pasar minyak nilam dan akar wangi yang bersifat oligopsonimerupakan faktor kritis kegagalan usaha, jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan sikap kewirausahaan yang tangguh. Sepanjang produk minyak nilam dan minyak akar wangi masih mengandalkan pasar ekspor, maka masih terdapat ancaman terhadap pembatas-pembatas perdagangan terselubung yang bersifat non-tariff (non-tariff barrier)yang diterapkan negara maju. Ancaman non-tariff barrier tersebut antara lain adalah issue lingkungan. Hal ini terutama berhubungan dengan praktek budidaya perladangan berpindah dengan cara membuka hutan, yang masih dipraktekan oleh sebagian petani tanaman nilam khususnya pada sebagian wilayah Sumatera.

Aspek teknis yang berhubungan dengan proses penyulingan minyak nilam dan minyak akar wangi mempunyai aspek kritis adalah sebagai berikut.
1) Konsistensi mutu dan kesinambungan pasokan bahan baku
Mutu bahan baku nilam dan akar wangi akan menentukan rendemen dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan. Pada industri penyulingan yang berlaku adalah kondisi “garbage in garbage out” dalam pengertian bahwa parameter-parameter proses penyulingan tidak dapat dimanipulasi untuk menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen dan mutu yang baik dari bahan baku yang buruk. Terdapat banyak faktor yang menentukan mutu bahan baku, baik yang berhubungan dengan faktor alam maupun perilaku dan praktek petani dalam budidaya tanaman. Membina hubungan kemitraan yang baik serta penetapan harga beli yang proporsional dan adil sesuai dengan mutu dan perkembangan harga jual produk merupakan salah satu upaya untuk mengurangi resiko ini. Harga beli bahan baku daun nilam dan akar wangi yang rendah merupakan faktor disinsentif yang mengakibatkan petani beralih usaha ke tanaman lain yang lebih menguntungkan, atau tidak melakukan perawatan tanaman yang baik. Kebutuhan yang mendesak untuk biaya hidup menyebabkan petani memanen daun nilam atau akar wangi lebih dini, sehingga mempunyai mutu yang rendah. Pada beberapa kasus, harga beli bahan baku daun nilam dan akarwangi yang tinggi juga dapat mendorong petani memanen daun nilam dan akar wangi lebih awal dari yang seharusnya.

2) Pengendalian Proses
Mutu bahan yang baik (termasuk perlakuan pendahuluan bahan sebelum disuling) dan parameter proses produksi yang dikendalikan dengan baik akan menjamin dihasilkannya minyak nilam dan akar wangi dengan rendemen dan mutu yang dikehendaki. Faktor kritis dalam parameter proses penyulingan dengan uap adalah (a) tekanan uap dan jumlah uap yang dialirkan kedalam ketel penyuling, (b) lama proses penyulingan, (c) kecepatan aliran uap yang dikeluarkan dari ketel, (d) lama proses, dan (e) kepadatan bahan dalam ketel. Kedisiplinan pekerja dan operator untuk mematuhi standar prosedur kerja merupakan kunci keberhasilan proses penyulingan. Disain boiler, alat penyuling dan kondensor yang tepat merupakan prasyarat pengendalian parameter proses penyulingan sehingga menghasilkan rendemen dan mutu yang baik.
3) Pengendalian Mutu Produk.
Berdasarkan pengalaman pelaku usaha industri ini, produk minyak atsiri umumnya dan minyak nilam serta minyak akar wangi khususnya dapat dipandang sebagai “produk kepercayaan”, dalam pengertian kepatuhan terhadap standar mutu yang disepakati dan konsistensi mutu merupakan perihal yang utama. Seperti telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka banyak faktor yang mempengaruhi mutu produk yang harus dikendalikan sehingga konsistensi mutu dapat dijamin. Resiko yang dihadapi oleh industri penyuling adalah bahwa di antara faktor-faktor tersebut faktor yang berada diluar kendali industri lebih banyak dibandingkan dengan faktor yang dapat dikendalikan oleh industri penyuling.
Faktor kritis kegagalan usaha industri minyak nilam dan minyak akar wangi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat teknis dan non-teknis. Faktor non-teknis berhubungan dengan (1) kemampuan manajemen dan sikap kewirausahaan pengusaha yang bersangkutan dan (2) faktor dan kendala eksternal yang berada di luar kendali pengusaha. Kondisi pasar minyak nilam dan akar wangi yang bersifat oligopsonimerupakan faktor kritis kegagalan usaha, jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan sikap kewirausahaan yang tangguh. Sepanjang produk minyak nilam dan minyak akar wangi masih mengandalkan pasar ekspor, maka masih terdapat ancaman terhadap pembatas-pembatas perdagangan terselubung yang bersifat non-tariff (non-tariff barrier)yang diterapkan negara maju. Ancaman non-tariff barrier tersebut antara lain adalah issue lingkungan. Hal ini terutama berhubungan dengan praktek budidaya perladangan berpindah dengan cara membuka hutan, yang masih dipraktekan oleh sebagian petani tanaman nilam khususnya pada sebagian wilayah Sumatera.

Aspek teknis yang berhubungan dengan proses penyulingan minyak nilam dan minyak akar wangi mempunyai aspek kritis adalah sebagai berikut.
1) Konsistensi mutu dan kesinambungan pasokan bahan baku
Mutu bahan baku nilam dan akar wangi akan menentukan rendemen dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan. Pada industri penyulingan yang berlaku adalah kondisi “garbage in garbage out” dalam pengertian bahwa parameter-parameter proses penyulingan tidak dapat dimanipulasi untuk menghasilkan minyak atsiri dengan rendemen dan mutu yang baik dari bahan baku yang buruk. Terdapat banyak faktor yang menentukan mutu bahan baku, baik yang berhubungan dengan faktor alam maupun perilaku dan praktek petani dalam budidaya tanaman. Membina hubungan kemitraan yang baik serta penetapan harga beli yang proporsional dan adil sesuai dengan mutu dan perkembangan harga jual produk merupakan salah satu upaya untuk mengurangi resiko ini. Harga beli bahan baku daun nilam dan akar wangi yang rendah merupakan faktor disinsentif yang mengakibatkan petani beralih usaha ke tanaman lain yang lebih menguntungkan, atau tidak melakukan perawatan tanaman yang baik. Kebutuhan yang mendesak untuk biaya hidup menyebabkan petani memanen daun nilam atau akar wangi lebih dini, sehingga mempunyai mutu yang rendah. Pada beberapa kasus, harga beli bahan baku daun nilam dan akarwangi yang tinggi juga dapat mendorong petani memanen daun nilam dan akar wangi lebih awal dari yang seharusnya.
2) Pengendalian Proses
Mutu bahan yang baik (termasuk perlakuan pendahuluan bahan sebelum disuling) dan parameter proses produksi yang dikendalikan dengan baik akan menjamin dihasilkannya minyak nilam dan akar wangi dengan rendemen dan mutu yang dikehendaki. Faktor kritis dalam parameter proses penyulingan dengan uap adalah (a) tekanan uap dan jumlah uap yang dialirkan kedalam ketel penyuling, (b) lama proses penyulingan, (c) kecepatan aliran uap yang dikeluarkan dari ketel, (d) lama proses, dan (e) kepadatan bahan dalam ketel. Kedisiplinan pekerja dan operator untuk mematuhi standar prosedur kerja merupakan kunci keberhasilan proses penyulingan. Disain boiler, alat penyuling dan kondensor yang tepat merupakan prasyarat pengendalian parameter proses penyulingan sehingga menghasilkan rendemen dan mutu yang baik.
3) Pengendalian Mutu Produk.
Berdasarkan pengalaman pelaku usaha industri ini, produk minyak atsiri umumnya dan minyak nilam serta minyak akar wangi khususnya dapat dipandang sebagai “produk kepercayaan”, dalam pengertian kepatuhan terhadap standar mutu yang disepakati dan konsistensi mutu merupakan perihal yang utama. Seperti telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka banyak faktor yang mempengaruhi mutu produk yang harus dikendalikan sehingga konsistensi mutu dapat dijamin. Resiko yang dihadapi oleh industri penyuling adalah bahwa di antara faktor-faktor tersebut faktor yang berada diluar kendali industri lebih banyak dibandingkan dengan faktor yang dapat dikendalikan oleh industri penyuling.

MENYIMAK USAHA MINYAK ATSIRI


Banyak hasil alam Indonesia yang menjadi komoditi perdagangan penting di dunia. Minyak nilam dan akar wangi merupakan komoditas dagangan internasional yang mempunyai peluang pasar yang masih terbuka. Pembahasan pada Bab Analisis Aspek Finansial memberikan gambaran keuntungan usaha secara finansial, sehingga industri ini tetap survive dan mampu membiayai usaha secara kontinyu.

Seperti halnya usaha agroindustri, industri minyak nilam dan akar wangi adalah industri yang berbasis sumberdaya alam. Kesinambungan bahan baku dapat terjamin sehingga tidak mengganggu proses produksi, sepanjang dapat dibina hubungan dan kemitraan yang baik, terbuka dan adil dengan petani produsen nilam dan akar wangi. Basis sumberdaya alam memberikan manfaat bagi kelangsungan industri, karena proses produksinya tidak tergantung kepada impor.
Minyak nilam dan akar wangi merupakan produk alami (natural product) dalam pengertian bahwa komponen senyawa kimia fungsional yang dikandungnya tidak dapat digantikan dengan produk sintetis. Produk parfum dan kosmetika merupakan sebagian dari produk industri yang menggunakan bahan baku minyak nilam dan akar wangi dalam proses produksinya. Kecenderungan kesadaran konsumen terhadap penggunaan produk-produk alami merupakan faktor yang secara tidak langsung mendukung keberhasilan industri ini.

Semakin terbukanya pasar dengan dukungan perkembangan teknologi informasi membuka peluang bagi pengusaha industri minyak nilam dan akar wangi untuk lebih akses terhadap informasi dan perluasan pasar baik domestik maupun internasional. Aplikasi dan pengembangan teknologi informasi berupa e-commerce telah terbukti secara empiris mempermudah akses pasar dan komunikasi/transaksi langsung dengan calon pembeli.